Thursday, September 24, 2015

Tanda tanya (?)

Seorang anak datang kepada ayahnya. Si ayah menyuruh anak itu duduk sembari menyuruhnya menunggu, ayahnya pun masuk ke kamar, sepertinya ia ingin mengambil sesuatu. Si anak penasaran apa yang ingin ditunjukan padanya. Tak lama kemudian sang ayah datang membawa foto lamanya ketika ia masih muda. Terlihat ia masih terlihat kurus dan hanya mengenakan kaus oblong kumal penuh noda tanah, ditangan kanannya menggenggam gagang pacul. Sang ayah membiarkan sebentar anaknya agar dapat melihat foto lamanya. Tak lama sang ayah pun bertanya kepada putri cantiknya yang tak lama lagi akan pergi meninggalkannya untuk menimba ilmu ke rimba ibu kota.
"Kamu tahu kenapa ayah perlihatkan foto itu ke kamu?" Ungkap sang ayah sambil merebahkan punggungnya ke sandaran bangku.
Putri nya hanya menggeleng keheranan.
Si ayah mengambil nafas pendek, mengambil cangkir berisi kopi dan melayangkan pandangannya ke langit-langir rumah.
"Ayah dulu adalah orang yang mandiri, bukan hanya selepas sekolah, tapi semejak duduk di SD. Ayah harus mengerjakan kebun tetangga kita agar dapat sekolah."
Sang anak terlihat serius menatap dan mendengarkan kisah lama ayahnya.
"Kamu lebih beruntung, bahkan sampai kamu kuliah ayah masih sanggup membiayai kamu, sebentar lagi kamu akan meninggalkan ayah, belajar di Jakarta."
Sang ayah menegakkan tubuhnya yg kini sudah agak tambun, beda dengan di foto yg sedang ia perlihatkan kepada anaknya.
"Pesan ayah hanya satu, serius lah belajar, ayah tidak ingin melarang kamu bermain karena tidak ada anak muda yg tidak mau bermain. Aturlah semuanya sebaik mungkin."
Sang anak terlihat mulai sesak mendengar nasihat ayahnya, ia hanya bisa mengangguk perlahan sembari terlihat matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu mungkin akan menemui seseorang yg akan merebut hati mu, pesan ayah hanya satu, jangan bawa lelaki ke rumah ini sebelum kamu yakin benar dengan lelaki tersebut dan lelaki tersebut juga serius dengan kamu."

---

Bertahun-tahun sang anak menjalani hidup di ibu kota. Mengingat dia seorang gadis tentu tak mudah hidup jauh dari kampung halaman, tapi ia menjalani nya dengan kekuatan yang sudah dititipkan ayahnya.
Namun hidup tak pernah selalu mudah, seperti hidup tidak pernan melulu sulit. Hidup ini berwarna, dan ia pun menjalani hidupnya yang penuh warna. 
Sadar akan pesannya agar mampu menjaga diri dan bertahan, ia pun melakukan dengan caranya. Kesulitan yang ia hadapi di bungkam dengan memanfaatkan orang disekitarnya. Dia tak segan menghancurkan seseorang, berbohong, berkhianat dengan dalih hal tersebut adalah cara untuk bertahan hidup.

Ia lupa ayahnya menyuruh dia bertahan sebagai manusia, bukan sebagai binatang. Dia lupa ketika ayahnya melepasnya pergi, yg ia lihat adalah putri cantiknya yg kuat hidup tanpa orang tua diperantauan, bukan iblis yang kuat menghancurkan dan mengelabui orang disekitarnya demi kehidupan kedepannya.

Dia mengingat cangkang dari nasihat ayahnya, dia lupa mengambul buah dari nasihat ayahnya, bagaimanapun, apapun yang dia lakukan kini hanya membuat luka untuk ayahnya.

Anak ayah sang bidadari yang lembut telah berubah menjadi iblis karena tidak mencerna nasihat ayah.

Thursday, May 21, 2015

Teruntuk Engkau.. sang pengejar mimpi.

Malam semakin gelap,
Kita tau sebelum merencanakan pergi ke lautan bintang dan berusaha mengaguminya,

Kita pura-pura lupa, atau benar-benar lupa?
Kita benar-benar jujur, atau berusaha berbohong?
Kita benar-benar mengenal, atau hanya berusaha menjadi orang yang terlihat ada?

Bagaimana ini bahagia jika menjelaskan definisi sesulit menjabarkan seperti apa kita?

Aku berusaha kuat seperti kau dengan perjalananmu,
Aku berusaha tegar seperti kau mencari arti hidupmu,
Aku berusaha kuat seperti kau bulat memegang janjimu,
Aku merasa memiliki seperti 'seolah' adalah 'sebenarnya',

Aku selalu punya alasan untuk membela namaku tapi entah mengapa aku selalu lupa untuk mencari apa itu bahagia,
Aku selalu merasa ini bahagia sembari mengerucuti senyum didepan gelegar tawa mu,
Aku seperti merasa orang melihat aku yang berisi penuh anugerah untuk membahagiakan orang tanpa sayatan ditiap rongga leherku,
Aku merasa perlu pulang dengan kepuasan untuk setiap arti yang kuberi untuk dirimu,

Tapi tiap selang detik ke detik selanjutnya aku adalah gema,
Gema yang berdegup melawan lafal apa yg telah kupercaya,
Aku hampir tidak percaya bahwa semua orang berhak mengerti arti hidupnya,
Aku hampir tidak percaya bahwa manusia bisa merubah fikirannya karena kita telah melepas atribut kekecewaan pada masa lalunya,
Aku hampir putus asa bahwa manusia bisa menolak apa yang bukan ia perjuangkan.. dan hanya menerima takdir,

Aku mungkin sudah putus asa selagi kau tersenyum karena arti yang kucari mungkin sudah terlewat,
Dan berganti jadi sebuah simpul kuat tak terlepaskan,
Hingga terlalu sulit sampai mukjizat turun dari langit dan mengatakan "bahwa dunia ini terlalu unik jika hanya akan selalu dianggap sama sampai pada akhirnya,
Terlalu datar jika jatuh pada sebuah sumpah yang tidak kau pelajari,
Terlalu menyedihkan jika hanya mempercayai janji yang semakin kau ragukan selagi kau tau kau hanya terjebak dalam kata-kata itu",

Kau tahu dan paling tahu,
Kata adalah kata dan tetap kata,
Tindakan adalah tindakan dan tetap tindakan.